ketika kamu terpaku pada dia dan tidak mampu melihat kebaikan dari mereka yang lain.
ketika kamu rela melakukan apapun demi dia tanpa menghitung untung rugi yang kamu dapat.
ketika kamu terbakar setengah mati melihat dia berbagi tawa dengan yang lain.
ketika kamu bersedia menerima semua kekurangan yang dia punya, karena bahkan, kamu sudah bisa untuk tidak melihat segala kekurangannya.
itu,
ketika kamu sedang jatuh cinta.
kamu boleh masuk dan menari lepas di dalamnya.
tapi tidak ada satu orangpun yang berani menjamin bahwa rasa pada dada kamu akan selamanya di sana.
dan kali ini, waktu yang memerankan sang antagonis.
waktu tidak perduli akan segala tangis atau pengorbanan yang telah kamu buang untuk dia.
waktu tidak mempunyai rasa belas kasih hanya untuk mengizinkan kamu kembali memperbaiki kesalahan.
waktu bahkan dapat berlari begitu cepat meninggalkan kamu dan dia.
tiba tiba saja waktu menghapus semuanya.
menyisakan kehampaan yang menggantikan sebuah senyuman.
kemana perginya setiap getaran ketika dia memanggilmu sayang?
atau kehangatan yang ikut memeluk saat kamu tertawa bersamanya?
dia pernah menjanjikan kebersamaan yang tidak terbatas,
dan kamu balas menjanjikan kenyamanan yang tidak pernah berubah.
tapi ketika waktu mulai berlakon,
kamu dan dia hanya mampu terdiam,
atau ironisnya,
saling menyalahkan satu sama lain.
mereka berkata tidak ada yang abadi,
tapi kamu dan dia dulu terlalu naif,
dengan congkaknya tertawa dan terus melangkah bersama.
dan kini hanya waktu yang tertawa melihat kamu dan dia berdiri di persimpangan.
tapi waktu tidak selalu yang terakhir berdiri tegap,
karena ketika kamu dan dia dapat meredam semua keegoisan,
menyelaraskan semua perbedaan,
menghargai setiap kenangan,
dan tidak tunduk terhadap peranan waktu,
maka kamu dan dia,
akan kembali tertawa dan merebut gelar waktu sebagai pemenang.
jadi,
apa kita akan menyerah terhadap waktu, atau bertaruh atas semua kenangan dan janji yang telah terukir untuk mengalahkan waktu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar